Samuel Kuffour, Melegenda Bersama 2 Tragedi Memilukan


Football5star.com, Indonesia – Benua Afrika, sekali pun tak pernah mampu berbicara banyak di pentas internasional selalu melahirkan talenta hebat sepak bola yang mendunia. Salah satunya Samuel Kuffour.
Namanya mungkin tidak segemerlap George Weah, Nwankwo Kanu, atau bahkan juniornya di timnas Ghana seperti Michael Essien. Tapi Samuel Kuffour layak diingat sebagai legenda besar dari Afrika yang sukses menaklukkan Eropa.
Lahir di Kumasi, Ghana, Kuffour memang diciptakan untuk sepak bola. Anggapan ini tidak berlebihan. Di usia yang masih sangat belia dia berani mengambil keputusan besar.
Keputusan yang pada akhirnya berbuah manis untuk dirinya sendiri dan negaranya. Tampil apik bersama akademi King Faisal, sang bek langsung menarik perhatian klub Italia, Torino.
Padahal usianya saat itu belum genap 15 tahun. Apalagi tidak banyak klub Italia yang berani berinvestasi untuk pemain asal Afrika, terlebih lagi Ghana.
Pada akhirnya, Juli 1991 Kuffour remaja menerima pinangan Torino. Tentu dia tidak langsung berada di tim utama. Sang bek kembali belajar di akademi klub Turin.
Dengan fasilitas yang lebih memadai dan pemahaman sepak bola yang semakin luas, dia ditempa selama dua tahun. Permainannya kian menjanjikan.
Lalu, peruntungan lain datang pada 1993. Raksasa Jerman, Bayern Munich, kepincut dengan pemain yang mengawali karier di Fantomas Kumasi. Dari akademi Torino dia pun hijrah ke akademi Bayern.
Di Jerman, jalannya menembus skuat utama The Bavarian tidaklah mudah. Sebelum benar-benar jadi andalan, Kuffour sempat “disekolahkan” ke tim Bundesliga lainnya, Nuremberg, pada paruh kedua musim 1995-1996.
Masa peminjaman ke Nuremberg pada akhirnya diakui sebagai keputusan tepat. Karena di sana dia benar-benar mengumpulkan jam terbang.
Ketika kembali ke Bayern, Samuel Kuffour menjelma jadi sosok andalan di jantung pertahanan. Duetnya dengan Markus Babbel atau Thomas Helmer yang lebih senior benar-benar jadi penghalang lawan dalam membobol jala Die Roten.
Sebagaimana bek pada umumnya, Kuffour mengandalkan kekuatan fisik. Tidak takut meladeni duel satu lawan satu dan tanpa kompromi dalam menghalau serangan lawan adalah kelebihannya.
Memang, dia harus berbagi tempat dengan Markus Babbel maupun Thomas Helmer. Tapi pelatih Die Roten seperti Giovanni Trapattoni hingga Ottmar Hitzfeld selalu memberinya kesempatan.
Apalagi ketika tampuk kepemipinan di tangan Ottmar Hitzfield. Sang pelatih sangat menyukai karakter Kuffour yang selalu bekerja keras dan berani melakukan apa saja untuk menang.
“Dia anak yang baik, tapi di lapangan dia sangat kuat. Dia selalu memberikan lebih dari 100 persen untuk tim dan saya senang bisa melatihnya,” ungkap Hitzfield seperti dikutip Football5star dari Kicker.
Kepercayaan pelatih benar-benar dimanfaatkan pemain kelahiran 3 September 1976. Di Bayern Munich pula dia meraih segalanya. Mulai dari gelar Bundesliga sampai Liga Champions sukses didapatkan.
Secara total, Samuel Kuffour memainkan 277 pertandingan selama 13 tahun mengabdi untuk Die Roten. Koleksi 10 gol membuahkan 22 trofi yang dia persembahkan untuk raksasa Jerman.
Tangis di Camp Nou Belum Kering Hingga Sekarang
Sayang, cerita Samuel Kuffour selama berseragam Bayern tidak melulu indah. Selama di sana dia mengalami dua tragedi berbeda yang sama-sama menyisakan duka.
Tragedi pertama terjadi di arena sepak bola. Bisa dibilang ini merupakan salah satu momen melegenda di Liga Champions. Semua penggemar bola tahu betapa terkenalnya comeback Manchester United di final Liga Champions.
Menghadapi Bayern Munich di Camp Nou, United tertinggal 0-1 lewat gol Mario Basler pada awal laga. Skor ini bertahan hingga menit ke-90.
Akan tetapi, kala para penggawa Die Roten sudah siap berpesta, Setan Merah menghentak lewat dua gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer pada masa injury time.
Bayern Munich kalah secara dramatis. Samuel Kuffour yang tampil penuh selama 90 menit tak kuasa menahan tangis. Terlihat jelas dia pemain yang sangat menyesal hari itu.
Kuffour menangis di tengah lapangan, mengepalkan tangan dan meninjunya ke tanah sebagai ungkapan penyesalan dan kekecewaan. Baginya, kekalahan hari itu merupakan tragedi besar.
Sampai hari ini penyesalan itu masih dirasakan. Hati dan pikirannya masih belum mau menerima apa yang terjadi di final Liga Champions 1998-1999.
Bahkan untuk sekadar melihat cuplikan pertandingan tersebut, pemain yang membawa Ghana juara Piala Dunia U-17 1991 silam tak sudi.
“Saya belum pernah menonton pertandingan itu. Saya tidak mau melihatnya. Jika ditayangkan di TV, teman saya akan menelepon dan berkata ‘hei, mereka menayangkan pertandinganmu’,” ujarnya kepada African Football.
“Saya bilang pada mereka bahwa saya tidak akan menontonnya. Itu masih membuat saya sakit. Saya harus melepaskan rasa ini tapi saya masih menyimpannya di dalam hati. Itu sangat sulit untuk dilakukan,” ia menegaskan.
Luka di Camp Nou akhirnya terobati dua tahun kemudian. Bayern Munich kembali menatap final Liga Champions. Menghadapi Valencia, mereka tampil digdaya.
Bermain imbang 1-1 selama 120 menit memaksa laga berlanjut ke babak adu penalti. Bayern menang 5-4 dan memastikan gelar Si Kuping Besar keempat.
Bagi Kuffour, itu adalah trofi Liga Champions pertamanya. Dia sekaligus jadi pemain Ghana keempat yang mencicipi trofi paling bergengsi Eropa setelah Abedi Pele bersama Marseille, serta duo Borussia Dortmund, Yahaya Mallam serta Ibrahim Tanko.
Kehilangan Putri Tercinta yang Masih Balita
Puncak karier Kuffour ada di Bayern Munich. Dia berjaya sebagai salah satu bek terbaik pada masanya. Rentetan gelar yang diberikan untuk klub juga sejalan dengan gelar individu yang diraih.
Dia tiga kali terpilih sebagai pemain terbaik Ghana pada 1998, 1999, dan 2001. Tiga penghargaan itu dia gapai kala memperkuat Die Roten.
Sayang, seperti yang disinggung di atas, 13 tahun masa baktinya di sana tidak selalu bahagia. Pria yang kini berusia 44 tahun pernah mendapat ujian terberat dalam hidupnya kala berseragam raksasa Bundesliga.
Setelah menangis pada final Liga Champions 1999, air matanya kembali jatuh empat tahun setelahnya. Kali ini cerita lebih mengenaskan. Ini bukan soal kegagalan di lapangan.
Ini soal Kuffour kehilangan orang terkasihnya. Putri tercinta yang baru berumur satu tahun meninggal dunia.
Anak bungsunya meninggal di kolam renang di kediamannya di Kumasi, Ghana. Dilaporkan jika putri kecil sang legenda dibunuh oleh perampok.
“Ini adalah pukulan takdir yang kejam bagi Samuel dan seluruh tim terkejut. Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk membantunya,” ujar Ottmar Hitzfeld kala itu.
Samuel Kuffour yang saat itu bersiap terbang ke Spanyol untuk pemusatan latihan menyambut musim baru langsung membatalkan kepergiannya. Ia pamit pulang ke Ghana menggunakan pesawat yang sudah disiapkan pihak klub.
Setelah tragedi itu, sang bek bermain dengan memendam rasa sakit. Hatinya marah melihat anaknya yang baru tumbuh harus menghadap tuhan lebih cepat.
“Momen itu sangat menyakitkan. Momen terberat dalam hidup saya sebagai seorang pria dan pemain sepak bola,” kenangnya seperti dilansir Ghana Soccernet.
Mengawali petualangan di Bayern Munich dengan harapan, Kuffour sukses menutup perjalanannya di sana dengan kesuksesan. Pada musim 2004-2005, musim terakhir di sana, ia berhasil mempersembahkan dua gelar, yakni Bundesliga dan DFB Pokal.
Keluar dari The Bavarian, jadi pertanda lemari trofinya sudah tertutup rapat. Tak ada lagi gelar yang dimenangkan saat berkostum AS Roma, Livorno, Ajax Amsterdam, hingga kembali ke Ghana bersama Asante Kotoko.
The post Samuel Kuffour, Melegenda Bersama 2 Tragedi Memilukan appeared first on Berita Bola Terupdate, Live Score, Jadwal & Klasemen - Football5star.com.
source https://www.football5star.com/samuel-kuffour-melegenda-bersama-2-tragedi-memilukan/




No comments:
Post a Comment